9 Perupa ber-(Re)Action di HUT Kota Bangli ke-814

BANGLI sedang merayakan HUT Kota yang ke-814 selama dua minggu penuh, sejak tanggal 1 – 12 Mei 2018. Dalam perayaan tersebut ditampilkan berbagai bentuk hiburan seni dan budaya, seperti pertunjukan joged, bondres, tari cak, gong kebyar, parade busana, dan tentu saja pawai budaya. Selain itu juga ada pertunjukan calonarang lengkap dengan tradisi ngunying.
Di tengah-tengah berbagai macam pertunjukan seni untuk menghibur masyarakat Bangli itu hadir kelompok seni Bangli bernama Bangli Art yang mengadakan pameran yang dibuka Jumat, 4 Mei 2018 pukul 17.00 WITA di Stand Seni perayaan HUT Bangli, Lapangan Kapten Mudita, Bangli.
Made Kenak Dwi Adnyana sebagai perwakilan dari Bangli Art menyebutkan pameran ini mengambil tema (Re)Action alias Kembali Beraksi. Ini merefleksikan bahwa perupa Bangli, yang gaungnya masih sangat minim di Bangli, tetap hadir dan melahirkan karya terus menerus, di tengah-tengah masyarakat Bangli yang mayoritas bergerak dalam bidang agraris.
Pameran menghadirkan 9 karya dari sembilan perupa Bangli yang tergabung dalam Kelompok Bangli Art, dimana para perupanya tergabung dari berbagai latar belakang pendidikan, seperti Alumnus ISI Yogyakarta, ISI Bali, dan SMSR Bali.
Lukisan yang ditampilkan memiliki karakter pendekatan yang beragam, mulai dari abstrak, naif, realis dan ekspresionis piguratif.
Gaya Abstrak Ekspresionis ditampilkan oleh lukisan dari Tien Hong dan Wayan Leco, dimana gaya ini mengedepankan unsur yang paling esensial dari dasar rupa, yakni garis, bidang, warna, dan tekstur yang diracik dengan pertimbangan komposisi yang indah.

Komposisi Warna, – Tien Hong

Gaya Naif Piguratif ditampilkan oleh lukisan Nengah Sujena, Lie Ping Ping dan Sang Made Alit Setiawan. Perbedaan diantara ketiganya terletak pada ide dasar yang mereka kemukakan dalam menciptakan lukisan mereka masing-masing.
Sujena menekankan pada keriuhan politik dalam sebuah panggung kekuasaan atau jabatan, Alit mengeksekusi tema ringan dalam kehidupan keseharian, sedangkan Ping Ping menekankan pada keintiman terhadap diri dan pengalaman keseharian dalam lingkungannya, yang menceritakan tentang konflik internal yang dialaminya sendiri, dan dikemas dalam visual yang terlihat ‘konyol’, tetapi memiliki makna yang dalam.

Harapan Sederhana – Lie Ping Ping

Gaya Visual Realistik ditampilkan dalam lukisan I Ketut Gede Susana dan Nengah Pujana, yang keindahannya didapatkan dari kekuatan perupanya untuk menangkap objek, serta kepekaannya dalam mengelola warna, sehingga lukisannya tampak dramatik dan mudah dinikmati, bahkan untuk orang yang awam tentang seni sekalipun.

Ngunying, – Widiantara

Gaya Visual Ekspresionis Piguratif ditampilkan oleh karya Putu Widiantara, yang memperlihatkan keriuhan pigur dengan gestur yang meliuk – liuk, menceritakan bagaimana kekuatan skala dan niskala pada sebuah prosesi ngunying. Sedangkan Made Kenak Dwi Adnyana lebih mengedepankan pada kekuatan teknik, memproses karyanya dengan mengeksplorasi material sehingga menghasilkan efek yang tidak terduga. Secara konseptual Kenak mendekatkan diri pada persoalan tata ruang, dimana landscape menjadi bagian penting dalam tata ruang yang ada.
Ditulis juga di tatkala.co 
Diberdayakan oleh Blogger.