Lie Ping Ping: Pencipta Si Raja Monyet

Monyet dan manusia. Bila manusia menjadi raja, keinginannya macam-macam, bahkan sampai ingin ‘memakan’ manusia lainnya. Sedang bila monyet menjadi raja, keinginannya tetap hanya satu, mendapat pisang.
SEPASANG lukisan yang diberi judul Monkey-King karya Lie Ping Ping bercerita tentang betapa getirnya kebiasaan manusia yang selalu maruk. Semakin memiliki, semakin banyak maunya. Namun kegetiran itu tak langsung bisa saya tangkap hanya dengan melihat lukisan tersebut, sebab keduanya dibuat penuh warna dan terlihat lucu.
Penulis bersama lukisan Monkey-King
Awalnya justru saya melihat lukisan ini adalah lukisan yang penuh keceriaan dan kesenangan. Si monyet berpenampilan sangat tampan karena tersenylum menggunakan mahkota dan membawa pisang di tangannya, sedangkan manusia berbaju biru bergaris, meski sedang memakan tangan manusia, tetap terlihat imut.
Setelah diberi penjelasan mengenai makna yang ada di balik lukisan itu, saya menjadi tercengang, ternyata sesuatu yang terlihat semanis ini bisa membawa pesan yang begitu menggores hati.
Ketercengangan saya lantas membuat saya tertarik untuk mengetahui proses kreatif Lie Ping Ping melukis.
Ping Ping merupakan seorang perupa muda yang lahir di Desa Lampu, Kintamani pada tanggal 7 September 1989. Ia yang semasa sekolahnya dikenal dengan nama Ade Kurniawan mengaku suka menggambar sejak ia berada di bangku Sekolah Dasar. Saat itu ia bersama keluarganya telah pindah ke Denpasar.
Kesukaannya terhadap bidang tersebut terus berkembang hingga akhirnya ia memilih jurusan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar di tahun 2007. Semenjak kuliah ia telah menggelar pameran karya berkelompok, hingga akhirnya pada tahun 2011 ia mengadakan pameran tunggal pertamanya di Amsterdam, Belanda.
Meski perjalanan kariernya sebagai seorang pelukis cukup sukses, Ping Ping juga mengalami masa tidak berkarya. Ia vakum dalam dunia melukis selama dua tahun, sejak 2014. Pada Oktober 2016, ia mantap menyatakan dirinya aktif kembali melukis dengan melaksanakan pameran tunggal di Art Patio, Lovina.
Mengunjungi Pooping Studio milik Lie Ping Ping
Lukisan Monkey-King bukan merupakan satu-satunya lukisan karya Ping Ping yang mampu menipu mata dan perasaan. Terdapat berpuluh lukisan lainnya yang memiliki keunikan seperti ini di galeri Lie Ping Ping. Setiap lukisan yang dibuatnya selalu menyajikan serangkaian pengalaman dalam dan dangkal yang berlapis-lapis, tidak bisa selesai dipahami hanya dengan melihat, tapi harus mengetahui cerita asli dari pelukisnya.
Baginya, melukis memiliki mekanisme seperti membuang sisa hasil pencernaan (hajat). Ide-ide mentah disaring, diproses sedemikian rupa hingga menghasilkan hasil akhir berupa lukisan.
Dalam proses ini, terdapat berbagai transformasi terjadi. Keresahan dan kegelisahan pribadi, dituangkan dalam sketsa, lalu dikemas ulang menjadi isu-isu umum yang sama sekali berbeda dengan makna dasar yang ingin ia tuangkan, kemudian sentuhan terakhirnya adalah memberi satu atau dua buah kata yang sederhana, namun sangat membuat percakapan dalam lukisannya mengalir.
Oleh karena tiap lukisan mengalami proses transformasi ini, studio miliknya diberi nama Pooping Studio.
Layaknya proses alami dalam mencerna makanan yang terjadi sepanjang waktu, Ping Ping pun menikmati proses melukisnya sepanjang waktu. Ia mengatur waktu untuk melukis di studionya dari jam 9 pagi sampai jam 4 atau jam 5 sore kemudian mengerjakan sketsa lukisan dimalam atau dini hari.
Di sela-sela aktivitasnya yang lain, ia memikirkan ide-ide untuk lukisannya. Bahkan konsep lukisan untuk tahun depan telah mulai ia persiapkan dari sekarang. Meski menjadi pelukis, ia memiliki ritme kerja yang amat teratur dan terorganisir dengan baik. Baginya, menjadi teratur dan profesional adalah sebuah keharusan dalam hidup.
Selain mengemukakan isu-isu kegetiran hidup, dalam lukisannya Ping Ping juga mampu menampilkan keromantisan dengan cara yang unik, seperti misalnya dalam lukisan yang diberi judul Cinta Tak Pandang Bulu.
Ia ingin memberi pesan sederhana bahwa cinta tak membeda-bedakan manusia, cinta bisa terjadi pada siapa saja, namun caranya menampilkan pesan ini sungguh tak biasa.
Cinta Tak Pandang Bulu
Ia menggambarkan bahwa si wanita memiliki bulu di seluruh tubuhnya hingga harus mengakui bahwa dirinya adalah wanita berbulu, kemudian pria dalam lukisan tetap menatapnya dengan wajah yang tersenyum lebar sembari membawa bunga dan mengatakan bahwa cintanya tak pandang bulu, ia mau menerima keadaan si wanita apa adanya. Ini adalah cara yang sangat romantis untuk menggambarkan perasaan cinta.
Bila dipandang sekilas, karya-karyanya lucu dan menarik hati karena berwarna warni, namun di balik penyajiannya yang lucu, karya-karyanya sering kali memberikan kita perenungan yang dalam terhadap sesuatu yang esensial tentang hidup, tentang bagaimana kita harusnya hidup sebagai manusia.
Melalui lukisan, ia menceritakan cerita paling getir dalam kehidupannya dengan cara yang justru membuat orang lain tertawa. “Saya ingin karya saya bisa membuat orang bahagia”, tegasnya.
ditulis juga di tatkala.co 
Diberdayakan oleh Blogger.