Facing The 'Earthquake' Tonight

“Gempa tak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menyelamatkan diri dan orang sekitar, serta mencari titik aman berkumpul, sama seperti proses berkesenian dan berpameran”
- Lie Ping Ping -

Selalu terdapat beragam sisi yang bisa kita jadikan sudut pandang untuk memaknai segala hal yang terjadi. Kegusaran mengenai gempa yang hingga saat ini masih terus menimpa saudara-saudara di Pulau Lombok, bahkan terasa hingga Bali, mampu digubah menjadi sebuah latar belakang bagi sebuah ide berkesenian oleh beberapa seniman Bali. Dari rasa gusar dan empati untuk para korban gempa Lombok, para seniman ini mencari makna lain yang boleh kita petik sebagai sebuah pemahaman segar dalam proses berkesenian.



Merenungi gempa, layaknya merenungi proses berkesenian. Bahkan dalam gempa itu sendiri terdapat seni. E(art)hquake. Para seniman ini merenungi bahwa gempa datangnya tiba-tiba, tanpa bisa diprediksi kapan akan terjadi, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menyelamatkan diri dan orang sekitar, lalu mencari titik aman berkumpul. Setelahnya mereka menyadari bahwa proses ini juga terjadi dalam diri para seniman. Inspirasi, ide dan kesempatan datang tanpa bisa diprediksi. Ketika datang, mereka harus segera memberi respon apa yang harus mereka lakukan dengan inspirasi ide dan kesempatan yang datang.


Sebagai bentuk respon dari kesempatan yang datang, sebelas seniman yang diberi kesempatan untuk berpameran berkumpul menjadi satu, berkontribusi untuk sama-sama saling merenungi proses ‘kegempaan seni’ yang mereka alami, yang disajikan dalam sebuah pameran kelompok (group exhibition). Pameran mereka akan diselenggarakan di Ruang Galeri Hotel Maya, Sanur, yang akan dibuka malam nanti (23 Agustus 2018), pukul 18.30 WITA.


“Pameran ini merupakan titik kumpul untuk menciptakan getaran atau persinggungan diantara kami para seniman dalam konteks positif. Dengan adanya getaran ini kami bisa memahami bahwa momen ini adalah satu pemantik untuk kami tetap hidup dalam dunia seni”, ujar Lie Ping Ping, salah satu perupa yang berpameran.
Diberdayakan oleh Blogger.