Alasangker: Cerita Di Dalam Celah Batu Belah

Aku gagal menemukannya. Aku telah bertanya pada belasan warga desa. Mereka menjawab dengan ragam yang sama sekali tak terlihat seragam. Ada yang menyesatkan karena petunjuk mereka nampaknya merujuk pada jurang. Ada pula yang memberi petunjuk secara detail, namun nampaknya tetap tak memberi dampak pada pencarianku, karena meski ku turuti setiap petunjuknya, tak pernah ku temukan sebuah gua yang mereka bicarakan.



Namun pencarian ini takkan berakhir begitu saja. Aku cukup terlatih untuk bersabar menunggu kesempatan menyambar. Dan benar saja, di suatu ketika di hari Sabtu senja secara seketika, sebuah tawaran untuk memburu tempat itu menghampiri. Itu adalah sebuah tawaran dari penghuni rumah biru. Awalnya aku ragu. Haruskah aku bergegas, atau harus menunggu seperti waktu itu. Kemudian di sempitnya waktu yang ingin bergegas melompat pada gelap, aku segera berlari menembus angin, menuju rumah untuk mempersiapkan diri berpakaian adat rapi, kemudian kembali ke Kota Singa lagi.

Pencarian bersama penghuni rumah biru ternyata mengantarkanku pada tempat yang sama seperti didetail yang pernah warga desa katakan padaku. Benar saja, ketika waktunya tak tepat, segalanya takkan terlihat. Sesungguhnya pada waktu itu aku telah menengok, namun tak berani menyusupkan diri pada sudut bagian daerah itu. Sehingga kemudian ketika diberi penunjuk jalur, langsung saja aku menelusuri tanpa ragu seketika itu.

Pertama kami harus menuruni tangga dahulu.
Tangga Setapak



Kemudian menembus rimbun pohon mengikuti aliran air. Ah, bila tanpa penghuni rumah biru, aku takkan pernah terfikir untuk menerka bahwa ada harta dibalik ini semua.

Jalur Aliran Air
Kami bisa menghilang dari jarak pandang. Tempat ini tersaji bak hutan dalam perfileman.



Dan ternyata tetap tak ku temukan sebuah gua, karena sesungguhnya, tempat ini adalah sebuah celah pada batu yang terbelah, dan aku sedang berada tepat di bawah, pada celah diantara batu belah.

Kemudian saatnya kami tenggelam pada tradisi mebersih (membersihkan) diri, atau dalam istilah Bali, disebutnya melukat. Pertama, aku menyalakan api, memadukan bunga yang tersaji pada canang dengan bara pada api. Canang (bunga) menjadi simbol Sang Maha Pencipta, serta bara api dupa menjadi simbol saksi bhakti kami.

Sebelum bersembahyang, kami membersihkan badan kami. di sisi kanan, pada tebing tersembul aliran air yang mengalir ulir. Batu itu menyajikan lubang bak lorong dalam yang mungil. Aku membersihkan tangan, kaki, wajah, dan mulut (berkumur) untuk menyatakan bahwa aku telah melarutkan segala niat lain selain menyucikan diri. Setelahnya baru aku memanjatkan doa, Tri Sandhya dan Panca Sembah dan mengutarakan tujuan kami datang.


Pelinggih tempat bersembahyang untuk melukat

Dan setelah bersembahyang, kami kembali memasuki celah. Ini celah kedua yang lebih sempit, gelap, dan tergenang. Basah setengah badan, sebelum akhirnya menaik pada tempat kering setengah basah didalamnya. Aku menghaturkan canang dan dupa sebagai perijinan puja di sebuah ruang yang kali ini terlihat seperti gua. Kemudian setelahnya, berbalik pandang dan memasuki sebuah sumber air. Benar saja kata para warga desa "ada air terjun didalam gua". Air benar - terjun menuruni celah yang entah di awal mulanya terbentuk dengan cara apa. Tak terfikirkan, namun luar biasa. 
Pintu masuk tempat melukat
Beginilah indahnya budaya. Aku paham bila dikata bahwa beberapa sudut tempat pada dunia memiliki energi besar yang terkumpul di dalamnya. Energi yang penuh dengan aliran positif yang mampu seketika mempengaruhi energi tubuh kita. Dan budaya mengemasnya sedemikian rupa sehingga energinya terjaga.

Bayangkan apabila budaya tak melindunginya. Orang - orang dengan tanpa aturan (dengan energi yang entah bagaimana) akan datang dan menyerap energi tanpa mengembalikannya, sehingga energi pada tempat itu menipis, lalu menghilang. Sedang budaya bertugas menjamin untuk menyeimbangkan segalanya. Membuat tempat itu dihormati, dihargai sebagai tempat yang harus dijaga.

Kita yang datang dengan wajah budaya tak mengambil energi yang tersaji pada tempatnya. Melainkan hanya menyelaraskan energi milik kita pada energi alam yang ada disana. Bagaimana? Dengan cara sederhana saja. Tempat itu dikata suci, maka kita kesana dengan pikiran baik, dengan persiapan baik, dan dengan niat baik. Kita bahkan menghaturkan kesungguhan (bhakti) kepada semesta lewat pemujaan kepada Yang Maha Esa. Sadar atau tidak, kita telah menuntun diri menyerupai energinya, sehingga yang terjadi adalah, kita tidak mengambil energi pada tempat itu, melainkan tempat itu menyelaraskan lagi energi dalam diri kita agar sesuai dengan energinya. Begitu cara kerjanya. Begitu cara kita menjaga 'kesuciannya', dengan tidak mengambil energi dari tempatnya. Begitu cara kita menjaga dunia agar tetap pada keseimbangannya. Begitu cara kita berterima kasih atas berkah kasih-Nya.

Segala budaya berlogika. Segalanya sesuai dengan yang diajarkan alam raya.

iluhbuleleng
-Ni Luh Wanda Putri Pradanti-
Diberdayakan oleh Blogger.